Gus Dur laid foundation for peace settlements in Aceh, Papua: Scholar

The late president Abdurrahman “Gus Dur” Wahid was successful in setting up a foundation for the peaceful settlement of separatist efforts in Aceh and Papua, using a controversial approach that did not see separatism as a form of resistance against the state, but as criticism against the government triggered by injustice.

“This approach was criticized by experts from Western countrie… click

 

 

Advertisements

Teliti Gus Dur, Ahmad Suaedy Raih Doktor Bidang Studi Islam

“Dengan dasar-dasar tersebut, penyelesaian damai Aceh dan Papua bersifat permanen,” tegasnya didepan penguji yang terdiri Ketua Sidang Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof KH Yudian Wahyudi PhD didampingi promotor Prof H Dudung Abdurrahman, penguji Dr Moch Nur Ichwan, Prof Noorhaidi, Prof Purwo Santoso serta Prof Abdul Munir Mulkan.click

Link

Tempat Ibadah Sebagai Pelayanan Publik

“Tempat Ibadah sebagai Pelayanan Publik.”
https://www.tempo.co/read/kolom/2015/10/19/2322/tempat-ibadah-sebagai-pelayanan-publik
Dua peristiwa kerusuhan bernuansa antarumat beragama yang membawa korban nyawa terjadi di waktu yang berdekatan dan di dua ujung provinsi Indonesia, timur dan barat. Kerusuhan di Kabupaten Tolikara, Papua, terjadi bersamaan dengan Idul Fitri, Juli lalu, dan di Aceh Singkil, Aceh, bertepatan dengan peringatan tahun baru Hijriah, Selasa pekan lalu.

Gus-Dur-dan-Kewarganegaraan-Kultural

“Gus Dur dan Kewarganegaraan Kultural.”
http://www.gusdurian.net/id/article/headline/Gus-Dur-dan-Kewarganegaraan-Kultural/
Renato Rosaldo (2003), antropolog asal Amerika Serikat, mengritik pendekatan dan teori dari Ben Anderson tentang nasionalisme yang kemudian menjadi klasik dengan apa yang dikenal imagined communities. Dengan rumusan nasionalisme individualistik yang bersumber dari media dan sarana komunikasi modern lainnya, menurut Rosaldo, Anderson telah jatuh pada selektif. Hanya mereka yang terliput dan memiliki akses kepada media modern lah yang tercakup ke dalam nasionalisme, sedangkan mereka yang marjinal, tersingkir, mioritas dan miskin, tidak terliput.

Link

“Ibadah Berasa Rekreasi, Relaksasi di Majid Haromain

“Ibadah Berasa Rekreasi, Relaksasi di Majid Haromain.”
https://islami.co/author/ahmad-suaedy/

Pernahkah anda menyaksikan atau sekadar bermimpi sekalipun, melihat orang Solat di masjid dengan tetap memakai sandal yang dipakai dari rumah? Sangat mungkin, belum (gambar 1). Tetapi itu acapkali terjadi di masjid Nabawi di Madinah, salah satu kota suci Islam di Arab Saudi, sebagaimana setiap orang muslim mengunjunginya untuk haji atau umroh. Masjid Nabawi adalah masjid yang didirikan oleh Nabi Muhammad SAW di kota Madinah Almukarromah yang semula bernama Yatsrib.

Link

Islam Mazhab Inggris Pasca Brexit

“Islam Mazhab Inggris Pasca Brexit.”
http://www.qureta.com/post/islam-mazhab-inggris-pasca-brexit

Seorang teman di London yang baru-baru ini mengikuti Munas (Masyawarah Nasional) partai Konservatif yang bertanggungjawab terhadap lahirnya Brexit (British Exit) atau hasil jajak pendapat yang membuat Inggris keluar dari Uni Eropa menyeritakan, betapa kecenderungan chauvinisme atau nasionalisme sempit di Inggris kini meninggi.

Berbagai teriakan pengusiran terhadap imigran yang dianggap telah merebut lapangan kerja orang-orang negara Ratu Elizabeth itu mencuat di forum nasional tertinggi partai berkuasa itu. Meskipun tidak setinggi Konservatif, susana yang sama terjadi pada partai Buruh, partai kedua terbesar yang kini sebagai oposisi.

Radikalisme dan Cara Pendanggulangannya

BNPT-WI-PAPER-YOGYA