Lawan Penghinaan Tanpa Kekerasan

Seolah sedang menumpahkan rasa benci dan salah pahamnya terhadap Islam dan Nabi Muhammad, Nakoula Basseley Nakoula yang bernama samaran Sam Bacile dari Amerika Serikat, memproduksi film Innocence of Muslims. Dari sudut apapun sesungguhnya film itu tidak memiliki nilai seni dalam sinematografi. selanjutnya klik di sini

Peluncuran “Abdurrahman Wahid Centre for Inter-Faith Dialogue and Peace-Universitas Indonesia”, Rabu, 18 Juli 2012

UNDANGAN TERBUKA: Mengundang Bapak/Ibu untuk mengahadiri Peluncuran “Abdurrahman Wahid Centre for Inter-Faith Dialogue and Peace-Universitas Indonesia”, Rabu, 18 Juli 2012, dimulai makan siang jam 12.00 WIB. Tempat di Ruang Terapung, Perpustakaan Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat.
Terima kasih atas kerjasamanya.

Buku Terbaru 2012; Pesan di Toko Online www.matabuku.com

Judul : Dinamika Minoritas Muslim Mencari Jalan Damai
Bisa didapat di Toko Buku Online http://www.matabuku.com
(Slamet2006@gmail.com, 081385312002)
(sambil menunggu beredar di daerah)
Penulis : Ahmad Suaedy (https://ahmadsuaedy.wordpress.com/)
Pangantar : Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA (Wamenag RI), Dr.H. Asad Said Ali (Waketum PBNU).
Kertas : bookpaper
Ukuran Buku : 14,5 x 21 cm
Jumlah Halaman : xxv+199.
Penerbit : The Wahid Institute
Tahun terbit : Mei 2012
Harga : Rp.80.000.
Buku ini menguarai peran organisasi-organisasi civil society dalam proses resolusi konflik di wilayah minoritas Muslim di Asia Tenggara, Muslim Patani, Thailand Selatan dan Bangsamoro di Filipina Selatan. Buku ini menunjukkan bahwa berbagai organisasi civil society di kedua wilayah Muslim itu cenderung mengambil jarak atau bersikap imparsial dari kelompok-kelompok politik yang terpolarisasi antara kelompok yang menempuh jalan separatisme dan kelompok yang mengutamakan integrasi.
Namun demikian, organisasi-organisasi itu tetap membawa aspirasi yang bersifat substantif, seperti aspirasi pengelolaan sendiri sumberdaya alam dan usaha membangun pemerintahan sendiri (self-government). Penguatan peran civil society dalam resolusi konflik itu berjalan seiring dengan proses globalisasi, yang pada gilirannya menunjukkan fenomena yang paradoks.

Capital City and Urban Politics in Southeast Asia

On going process

Multikulturalisme Indonesia: Kebijakan Presiden Gus Dur atas Aceh, Papua dan Minoritas Iman

On going process

Aside
JUM”AT, 23 MARET 2012 | 08:36 WIB

TEMPO.COJakarta – Direktur Eksekutif The Wahid Institute Ahmad Suaedi menyatakan, DKI Jakarta saat ini memerlukan pemimpin yang memikirkan masalah pluralisme. Menurut Ahmad, keberagaman yang ada di Jakarta saat ini harus dijaga dengan baik sehingga tidak ada sentimen-sentimen berkaitan dengan SARA. “Jakarta harus dipimpin orang yang memikirkan masalah multikulturalisme ini,” kata Ahmad saat dihubungi Tempo, Kamis, 22 Maret 2012.

Ahmad menyatakan, calon Gubernur DKI Jakarta yang bertarung dalam pilkada Juli mendatang harus membuat sebuah kebijakan-kebijakan yang berpegangan pada prinsip pluralisme. Menurut Ahmad, masalah pluralisme itu tidak harus keberagaman antarsuku atau antar-agama, tetapi juga berdasarkan kelas ekonomi. “Jadi pembedaan antara orang miskin dengan orang kaya juga tidak boleh terjadi,” Ahmad menambahkan.

Jakarta sebagai Ibu Kota negara, kata Ahmad, harus menjadi barometer keberagaman dan multikulturalisme yang ada di Indonesia. Kebijakan dengan berlandaskan pluralisme itu, dikatakan oleh Ahmad, salah satunya bisa diterapkan penataan arsitektur atau bangunan yang tidak didominasi oleh satu kelompok tertentu. “Jakarta memerlukan pemimpin yang memiliki visi seperti itu,” kata Ahmad.

Beberapa hari lalu, Front Pembela Islam menyatakan akan mendukung salah satu calon gubernur dengan syarat tertentu. Syarat dari FPI itu adalah Gubernur DKI Jakarta nantinya harus mengeluarkan SK yang berisi melarang aktivitas ajaran-ajaran Islam yang dianggap sesat. Salah satu ajaran yang dianggap sesat, menurut FPI, adalah ajaran Ahamadiyah.(Baca: Calon Gubernur Jakarta Pilihan FPI)

Ahmad sendiri menilai pernyataan FPI itu sebagai bentuk pernyataan yang liar dan berlebihan. “Pernyataan itu merupakan bentuk yang tidak sejalan dengan semangat pluralisme di Indonesia,” ucap Ahmad.

Pergulatan Minoritas dalam Negara Hegemonic: Studi Kasus Muslim Bangsamoro di Mindanao, Filipina Selatan

Minoritas Muslim Mindanao-DIALOG